Antara Jalan AM Sangaji, Jetis, dan Lagu Yogyakarta Besutan KLA Project

 Lagu "Yogyakarta" dari KLa Project memiliki kisah penciptaan yang cukup menarik karena ternyata awalnya sama sekali tidak dimaksudkan sebagai lagu tentang Kota Yogyakarta. Lagu ini lahir dari perpaduan kenangan pribadi, nostalgia, dan sedikit campur tangan keluarga Katon Bagaskara.

1. Berawal dari melodi, bukan dari kota Jogja

Lagu ini pertama kali lahir dari komposisi musik yang dibuat oleh Adi Adrian. Setelah melodi selesai, tugas menulis lirik diberikan kepada Katon Bagaskara. Saat itu Katon merasa nuansa musiknya cocok menggambarkan suasana perjalanan dan kerinduan terhadap sebuah kota yang menyimpan kenangan.

2. Awalnya bukan Yogyakarta

Menurut cerita Katon, ia sempat membayangkan kota-kota seperti Paris, Roma, atau Barcelona sebagai latar lagu tersebut. Namun kemudian ia teringat masa kecilnya saat sering berkunjung ke rumah kakek-neneknya di kawasan Jetis, Jalan A.M. Sangaji, Yogyakarta. Kenangan itulah yang akhirnya menjadi fondasi emosional lagu ini.

3. Kata "Jogja" baru muncul di menit-menit terakhir

Yang menarik, setelah lirik selesai ditulis ternyata kata "Jogja" sama sekali belum muncul di dalam lagu. Awalnya bagian lirik berbunyi:

"Nikmati bersama suasana kota"

Ibunda Katon kemudian bertanya mengapa lagu yang jelas-jelas menggambarkan Jogja tidak menyebut nama kotanya. Atas sarannya, lirik itu diubah menjadi:

"Nikmati bersama suasana Jogja"

Dari situlah lahir judul "Yogyakarta".

4. Bukan lagu cinta biasa

Banyak orang mengira lagu ini adalah lagu tentang kekasih yang meninggal atau pergi selamanya karena bagian:

"Walau kini kau t'lah tiada tak kembali, namun kotamu hadirkan senyummu abadi"

KLa Project sendiri tidak pernah memberikan penjelasan pasti siapa sosok "kau" dalam lagu tersebut. Karena itu, lagu ini menjadi sangat universal: bisa dimaknai sebagai kerinduan kepada kekasih, keluarga, sahabat, atau masa lalu yang tak akan kembali. Justru ambiguitas inilah yang membuat lagu tersebut begitu kuat secara emosional.

5. Suara "delman" ternyata bukan delman

Fakta lain yang jarang diketahui adalah suara yang sering dianggap sebagai derap kaki kuda atau suara andong Malioboro ternyata sebenarnya berasal dari synthesizer elektronik. KLa Project memang sengaja membuat lagu ini sebagai karya beraliran synth-pop atau elektronik, sesuatu yang cukup revolusioner untuk musik Indonesia akhir 1980-an.

6. Lagu yang melampaui kota asalnya

Meskipun berjudul "Yogyakarta", banyak orang merasa lagu ini sebenarnya bisa menggambarkan kota mana pun yang menjadi tempat pulang dan menyimpan kenangan. Barangkali itu sebabnya lagu ini tetap relevan bagi para perantau, bahkan bagi mereka yang tidak pernah tinggal di Jogja sekalipun.

Pada 1991, lagu ini memenangkan BASF Awards untuk kategori Lagu Terbaik, dan hingga kini masih dianggap sebagai salah satu lagu tentang kota terbaik yang pernah lahir di Indonesia.*** 


Sumber foto:

Instagram




 

No comments:

Post a Comment