Sampah Jadi Bahan Bakar, Solusi Kota Cilacap Tanpa TPA (3)

Nurdiana Darus

Direktur Pengelolaan Sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Novrizal Tahar, mengaris bawahi perlunya kerja sama berskala besar dari berbagai pihak dalam menyelesaikan permasalahan sampah.

“Kita harus mendorong lompatan teknologi dan berbagai pendekatan  untuk menyelesaikan permasalah sampah kita. Salah satunya sesuai dengan tema Hari peduli Sampah Nasional, kita mendorong sampah jadi bahan baku energi.”

Pemerintah menurutnya sudah mempunyai gambaran kuat bahwa ada dua pengguna potensial RDF yaitu PLTU dan industri semen.  

“PLTU ada di 52 titik lokasi dengan 114 plant, dan 34 plant industri semen. Kalau dimaksimalkan bisa 20 ribu ton per hari. Apalagi nanti ditambah boiler-boiler milik swasta. Sehingga potensinya lebih besar lagi untuk menyelesaikan masalah sampah kita.”

Daerah Lain Berminat

Menurutnya, pemerintah pada 2021 menargetkan minimal ada 10 titik plant RDF dibangun. Ini sejalan dengan target bauran energi pada 2025 sebesar 23 persen untuk energi terbarukan. 

Novrizal Tahar

“Menjadikan sampah sebagai produk RDF, selain menyelesaikan persoalan sampah, meningkatkan penggunaan energi terbarukan, juga bisa mengurangi emisi gas rumah kaca,” jelasnya.

Novrizal membeberkan, saat ini ada beberapa daerah yang sudah melakukan komunikasi dengan KLHK terkait pembangunan RDF. Untuk industri semen yaitu di Kupang (Semen Kupang), Sukabumi (Semen Siam), Padang (Semen Padang), Banda Aceh (Solusi Bangun Indonesia), Sumatera Selatan (Semen Baturaja). 

Nurdiana Darus dari Unilever Indonesia mengungkapkan sangat mendukung keberadaan fasilitas RDF di Cilacap. Dukungan itu berupa bantuan pengadaan armada agar kapasitas sampah yang diangkut menuju instalasi pengolah bisa ditingkatkan. 

“Unilever bercita-cita menciptakan planet yang baik dan bersih untuk kita semua. Kami punya tiga komitmen, pertama memotong penggunaan plastik baru sebanyak 100 ribu ton hingga 2025. Kedua, berkomitmen menggunakan kemasan yang 100 persen bisa didaur ulang. Ketiga, mengumpulkan dan memproses kemasan lebih dari apa yang dijual,” kata Nurdiana.

Kerja sama Unilever dengan pemerintah Cilacap dan SBI ada pada komitmen ketiga, untuk bisa mendorong tata kelola sampah dengan cara mengumpulkan dan memproses sampah di bagian hilir.   

Sementara Lilik Unggul Raharjo dari SBI menuturkan peran SBI dalam pengolahan RDF di Cilacap ada tiga, yaitu sebagai inisiator, operator dan off taker atau pengguna. 

Tumpukan sampah di Tritih Lor

dok DLH Cilacap
“Bagaimana kita bisa berkontribusi dalam pengolahan sampah kota terutama di sekitar pabrik berdiri. Kita mulai dengan yang ada di Cilacap,” ungkap Lilik.

Pihaknya kala itu lalu menghubungi beberapa pihak untuk menjajaki sejumlah kerja sama. Antara lain dengan Environmental Support Program (ESP 3) Danida (Danish International Development Agency) dari Denmark, kementerian PUPR, Pemerintah kabupaten Cilacap, Pemerintah Propinsi Jawa Tengah, dan Kementerian LHK.

“Sebelumnya kami punya propotype yang lebih kecil di pabrik kami di Narogong.“

Lilik menerangkan, dalam hitungan konservatif, jika 5 persen saja Semen Indonesia bisa memanfaatkan sumber energi dari RDF untuk penggantian batubara maka langkah ini bisa menyerap sampah sekitar 1 juta ton. Untuk kasus Cilacap, unit pengolah bisa hasilkan 40 hingga 60 ton RDF sehari yang bisa menggantikan batubara 3 hingga 4 persen, dari 120 ton sampah per hari.
(habis)