Kehidupan Bajingan Gerobak Sapi (2)



Gerobak sapi, dulu raja jalanan.

Di pagi buta suara klonthongan sapi menjadi penanda gerobak sapi sedang lewat di jalanan desa. Klonthongan sapi atau genta sapi terbuat dari campuran besi dan kuningan. Sementara pemukul genta terbuat dari kayu yang digantungkan di dalam genta. Masing-masing sapi membawa genta sendiri yang dikalungkan di lehernya.

“Ukurannya pun berbeda sehingga saat sapi-sapi itu berjalan suaranya bak alunan gamelan,” kata Sariman, pembuat gerobak sapi yang kesohor di Yogyakarta.   

Ukuran gerobak sapi panjang sekitar 5 meter, lebar 1,25 meter dan tinggi 2,5 meter. Harga pembuatan gerobak mulai dari Rp5 juta hingga Rp50 juta, tergantung bahan dan yang digunakan. Menurut Noto, biaya membangun gerobak miliknya menghabiskan biaya sekitar Rp10 juta. Kata Sariman, gerobak sapi yang diukir indah bisa sampai Rp250 juta. 

Menjadi bajingan itu gampang-gampang susah. Gampang karena tidak memerlukan keterampilan khusus. Susah karena penarik gerobak adalah sapi yang kadang-kadang bisa ngambek.

“Umumnya karena kelelahan. Saya istirahatkan sebentar lalu jalan lagi,” kata Haryadi. 

“Sebab sekarang sapi cuma diberi makan, untuk penggemukan. Tidak untuk membantu di sawah,” kata Noto. “Di zaman saya, sapi juga untuk bekerja di sawah. Ngluku,” tambahnya.
Di zaman dulu, ngluku atau membajak sawah biasa dilakukan dengan tenaga sapi atau kerbau. Kini dengan traktor.

“Kalau dicoba di sawah 3 sampai 4 jam tidak masalah berarti kuat untuk menarik gerobak,” kata Mulyoharjo.

Ruri Setyawan, salah satu putra Sariman menjelaskan cara mengendalikan gerobak sapi.
“Jak untuk ke kanan, her untuk ke kiri. Kalau mau jalan bajingan akan mengeluarkan kata cek, cek, cek atau kecek. Kalau berhenti hop atau his,” kata Ruri.  

Ada cerita, karena melakukan perjalanan jauh berjam-jam, bajingan sering tertidur selama perjalanan dan membiarkan sapi-sapinya berjalan sendiri. Haryadi membenarkan cerita itu.

“Itu karena sapi sudah hapal jalan. Orang yang nggireke tidur, gerobak tetap bisa sampai rumah. Itu enaknya gerobak sapi,” katanya lagi.   

Sariman
Lalu kenapa disebut bajingan? Menurut Sariman, menjadi “sopir” gerobak sapi haruslah kuat fisik dan kuat modal. Dunia gerobak sapi adalah dunia yang keras dan berisiko.

“Dulu di jalan yang dilalui gerobak sapi banyak begal. Mengangkut ketela saja banyak diboboli (dicuri). Maklum tahun 1940 hingga 1948 masih rawan pangan. Kalau tidak kuat fisik, pandai bela diri, bisa jadi korban,” kata Sariman.

Mungkin karena itu, bajingan kemudian diserap ke dalam bahasa tutur untuk sumpah serapah, atau menunjuk pada karakter seseorang yang berperangai kasar atau kurang ajar. Kini, bajingan adalah akronim untuk Bagusing Jiwo Angen-angene Pangeran atau bagusnya jiwa harapan Pangeran (Yang Kuasa).

Setidaknya tercatat ada enam komunitas bajingan di seputar Yogyakarta yaitu Pager Merapi (Sleman Utara dan Klaten), Makarti Roso Manunggal (Sleman Timur), Manunggal Lestari (Sleman Barat), Pangrekso Andhini Karyo (Sleman), Guyub Rukun dan Langgeng Sehati (Bantul).

Menurut Haryadi yang menjadi pengurus Makarti Roso Manunggal, jumlah anggota paguyuban ada 110 orang. Jumlah keseluruhan pemilik gerobak sapi di Yogyakarta dan sekitarnya tak kurang dari 600 orang. Sementara Festival Gerobak Sapi 24 hingga 25 September lalu di Bantul yang diadakan Dinas Pariwisata DIY dan komunitas bajingan Yogyakarta diikuti sebanyak 246 peserta. (Habis)

No comments:

Post a Comment